Jaga Kondusifitas, Prioritaskan Adu Gagasan di Pilkada Kolut

0
684
Tampak (dari kiri-kanan) Ketua DPC PDIP Kolut Agusdin, Calon Bupati Anton dan Calon Wabup Abbas dalam gelar konsolidasi di Desa Ngapa, Kecamatan Ngapa, Kolaka Utara

MCNEWSULTRA.ID, Lasusua – Pasangan calon Anton-Abbas mulai memunculkan sedikit program unggulan strategis bila terpilih jadi Bupati dan Wakil Bupati Kolaka Utara Periode 2024-2029.

Keduanya menilai adu gagasan menjadi prioritas guna menarik dukungan dan simpatik pemilih. Mereka pun sepakat konstestasi pilkada kali ini jauh dari konflik kepentingan yang tidak sehat.

“Bagi saya semakin banyak pasangan calon lebih bagus. Justru memberi ruang bagi masyarakat menilai mana program yang lebih realistis di antara paslon,” ungkap Bakal Cabup Kolut Anton saat konsolidasi bersama jajaran Pengurus PKB di Desa Ngapa, Kecamatan Ngapa, Kamis (22/8/2024).

Paslon berslogan Anton-Abbas Andalanku menginginkan proses pergerakan harus nampak perbedaan. Sehingga bila muncul paslon lebih dari dua sehingga adu gagasan menjadi lebih terbuka.

“Kita semua tahu karakter masyarakat Kolaka Utara nilai persaudaraannya sangat tinggi. Tapi dinamika di sosial media cenderung kurang sehat, sampai ada yang menghendaki orang penjara,” ujarnya.

Menurut dia, seharusnya hal-hal seperti itu jangan dikembangkan di tengah masyarakat, persaudaraan harus dikedepankan. Kalau ada pemimpin bermasalah harus didoakan agar terhindar jeratan hukum.

“Jangan seolah mau didorong ke jurang. Kita ini hanya manusia yang berusaha semaksimal mungkin dan hasilnya kita serahkan pada yang di atas,” imbaunya.

Bicara program unggulan, Politisi PDIP Sultra menegaskan program revitalisasi kakao itu adalah konsep yang dirumuskannya saat berpasangan dengan Abbas di Pilkada 2012.

Pilkada Tahun 2017, program itu kembali disounding pasangan Nur Rahman – Abbas, tetapi secara teknis menyimpang dari spirit program itu sendiri sehingga berjalan tidak optimal.

Senada Cawabup Kolut Abbas juga mengakui bahwa program revitalisasi kakao bila berjalan sesuai konsep idealnya, tentu sangat berdampak dan bermanfaat pada masyarakat.

“Hanya saja dalam penerapannya memang kurang pas kalau dikelola pemerintah. Konsep sesungguhnya yang mesti didorong adalah berbasis pemberdayaan,” tandasnya. (***)

Reporter : Andi Momang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini