
MCNEWSULTRA.ID, Kendari – Proses pembangunan saat ini baik nasional maupun daerah tentu tidak bisa dilepaskan dari ruang kontrol masyarakat luas. Namun berbagai kontrol yang dilakukan elemen masyarakat harus ditanggapi secara positif dan konstruktif.
“Pemerintah tidak boleh anti kritik, itu nggak zaman lagi pengambil kebijakan kaku menerima kritik dari dampak fungsi kontrol masyarakat. Saya pribadi senantiasa menekankan itu dalam kerja-kerja pemerintahan, khususnya di lembaga parlemen,” tutur Ketua DPRD Sultra H Abdurrahman Shaleh.
Penegasan itu diutarakan saat menggelar silaturahmi dengan peserta Muktamar XXIX Nasional Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Kendari, Jumat (22/10/2021) malam.
Agenda itu dihadiri Pengurus IMM Sultra, peserta muktamar dan tokoh-tokoh Muhammadiyah di daerah.
Namun, lanjutnya, proses penyampaian aspirasi tersebut mesti mengedepankan nilai-nilai pembangun dan menawarkan solusi dari berbagai kekurangan pembangunan sehingga pemerintah juga punya rujukan untuk kembali merevisi kebijakan yang sudah diambil.
“Nah, momen silaturahmi dengan peserta Muktamar Nasional IMM ini saya ingin menitip pesan agar IMM ke depan menjadi motor dan mewadahi inovasi pergerakan mahasiswa dalam menjalankan fungsi kontrolnya,” ucapnya.
IMM sebagai salah satu wadah berhimpunnya mahasiswa, lanjutnya, harus mengembalikan dan menyadarkan tugas mahasiswa ke arah yang ideal yaitu berada di tengah-tengah antara masyarakat dan pemerintah.
Soalnya, tampuk kepemimpinan bangsa ini akan diserahkan pada mahasiswa yang masih menjadi proses pembentukan identitas dan kualitas diri.
“Jadi sebagai motor inovasi pergerakan mahasiswa tentu kami selaku unsur pemerintah juga sangat berharap agar IMM bisa memainkan peran yang lebih fundemental guna mendorong upaya mencerdaskan bangsa hari ini melalui berbagai kegiatan atau aktivitas yang produktif,” katanya.
Ketua DPW PAN Sultra ini juga menegaskan bahwa mahasiswa ke depan bila usai menuntaskan kewajiban di perguruan tinggi harus memiliki motivasi mengambil peran dalam afiliasi kepemimpinan sebuah sistem.
“Untuk jadi pemimpin yah ndak boleh pesimis. Mau tak mau, suka atau tidak harus berani meleburkan diri dalam sistem atau masuk dalam turbolensi kekuasaan. Kalau pemerintahan jelek misalnya, yah masuk ke sistem, anda pimpin perbaikannya nanti,” tandasnya. (**)
Reporter : Juhartawan



