
MCNEWSULTRA.ID, Lasusua – Gelombang tinggi air laut melanda sebagian wilayah Sultra. Tak terkecuali di wilayah Kabupaten Kolaka Utara. Situasi ini sudah diprediksi BMKG sebagai dampak fenomena La Nina yang terjadi hingga April 2022.
Gelombang tinggi air laut di Perairan Bone ikut menghantam pesisir Pantai Kota Lasusua, tepatnya di Jalur Bypass Lasusua-Tobaku. Akibatnya beberapa gerobak Pedagang Kali Lima (PKL) di Area Lacaria Traditional Food (LTF) rusak akibat diobrak-abrik air laut, Selasa (22/2/2022) sore.
Sebagian PKL hanya bisa pasrah melihat gerobaknya rusak. Pedagang pun berupaya mengamankan peralatan yang masih bisa digunakan.
“Saya sudah mengantisipasi dengan menutup dan tidak berjualan, hanya saja gelombang tinggi membuat dinding tanggul jebol sehingga menghantam gerobak saya,” kata Nirwana.
Selain Nirwan, gerobak milik Aksen juga rusak dihantam gelombang tinggi. “Gerobak saya juga rusak pak, bahkan piring dan peralatan lainnya ikut terbawa arus,” ucapnya.

Aksen dan PKL lainnya, berharap Pemerintah Daerah (Pemda) Kolut memperhatikan nasib mereka yang setiap harinya mengais rezeki dengan berjualan anek jus buah di tepi jalan by pass.
“Ini bukan pertama kalinya menimpa kami. Kami berharap pemerintah bisa menyiapkan fasilitas lahan jualan yang aman seperti di kawasan Masjid Agung,” tutur Aksen.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kolut, Syamsuriani menegaskan, gelombang tinggi disertai angin kencang menghantam area Pesisir Kolaka Utara hingga menyebabkan kerusakan materi.
“Di area bypass, beberapa rumah makan di area LTF dan tambat perahu juga kena gelombang. Sebagian penjual panganan tradisional terpaksa mengungsikan peralatan ke luar rumah makan,” ungkapnya, Rabu (23/2/2022).
Dia menambahkan, kerusakan juga dialami beberapa titik tanggul pemecah gelombang di kawasan Bypass dan air pun menggenangi ruas jalan dari sisi kiri arah Kota Lasusua.
“Kerusakan tanggul di Kawasan LTF sepanjang 1,3 kilometer dengan estimasi kerugian mencapai Rp 2,8 miliar. Ketinggian gelombang diperkirakan 3,4 meter,” terangnya.
BPBD sudah mengimbau pada seluruh pedagang agar sementara tidak melakukan aktivitas di area LTF baik lapak maupun gerobak. Sambil menunggu kepastian kondisi cuaca 1 x 24 jam.
Untuk mengantisipasi kecelakaan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kolut melakukan rekayasa lalulintas dengan menutup sisi kiri ruas jalan by pass, hingga genangan air mengering dan material batu dibersihkan dari badan jalan.
Dampak angin kencang dan gelombang tinggi juga menimpa beberapa wilayah di Desa Tobela, Patikala, Sawangaoha, Lanipa-nipa, Latawaro dan Simbula. Kerusakan pada rumah warga tak bisa dihindari.
Pantaun MCNuwsultra id, tadi malam sampai siang ini sejumlah anggota dari Dinas PU bersama Porsonil dari damkar telah melakukan pembersihan material pasir dan batuh yang berserakan di tengah jalan dan hari ini jalur kiri bay pas sudah kembali dilalui kendaraan. (***)
Reporter : Andi Momang



