
MCNEWSULTRA.ID, Lasusua – Nasib nahas dialami Resky Malik (12), salah seorang santri Pondok Pesantren Al Islam Meeto, Desa Mattirobulu, Kecamatan Tiwu, Kolaka Utara. Dia menjadi korban percikan api yang nyaris melalap sekujur tubuhnya.
Di balik peristiwa itu kepolisian terpaksa mengamankan dua rekan korban yang masih di bawah umur yakni berinisial H (12) dan AM (14), keduanya warga Kecamatan Pakue Tengah.
Menurut Kapolres Kolut AKBP Ritman Todoan Agung Gultom, kejadian itu bermula saat korban dan kedua temannya bermain. Lalu salah seorang teman korban sempat menyiramkan BBM jenis pertalite ke badan korban.
“Keterangan pelaku, tidak sengaja melemparkan api menyebabkan tubuh korban sebelah kiri dari kaki hingga tangan ikut terbakar,” tutur Kapolres Ritman pada awak media usai menjenguk korban di rumah sakit, Jumat (11/5/2025).
Kepolisian sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial mengingat dua pelaku yang diamankan masih berstatus di bawah umur.
Namun Kepala Ponpes Al Islam Meeto, Syamsuddin Ribi membantah bahwa kejadian itu murni kecelakan dan bukan kasus perundungan atau kekerasan.
“Informasi kami terima korban bersama tiga temannya meninggalkan pondok tanpa izin pembina, lalu bermain-main di sungai. Tindakan mereka itu pelanggaan aturan pondok,” tuturnya.
Ia menjelaskan, korban sempat kembali ke pondok dalam keadaan menangis namun masih dalam kondisi sehat.
“Saya tanya kenapa menangis, dia bilang ‘Saya terbakar, Ustaz’. Dia mengaku saat main api justru memercik ke tubuhnya,” ujarnya.
Melihat korban menangis akibat luka bakar, pihak Ponpes segera membawa ke puskesmas tanpa mengorek lebih jauh masalahnya.
Syamsuddin juga membantah adanya keterlibatan senior dalam kejadian ini. “Ini bukan ulah senior. Yang terlibat adalah teman seangkatan, kelas 1 dan 2 Tsanawiyah. Mereka selama ini dikenal cukup akrab,” katanya.
Namun, Syamsuddin tidak menampik bahwa jika terbukti ada unsur pemaksaan saat korban dicukur alis dan rambutnya, maka bisa dikategorikan sebagai bentuk perundungan.
Dokter spesialis dari RSUD Djafar Harun Lasusua, dr. Widyarsa, menjelaskan kondisi korban saat ini dalam keadaan stabil namun mengalami luka bakar serius.
“Luka bakarnya sekitar 27 persen dengan derajat 2A dan 2B. Terkena di bagian punggung, perut, dan sekitar selangkangan. Saat ini pasien sudah direhidrasi dan kami fokus mencegah infeksi dengan isolasi ruangan dan pemberian antibiotik serta vitamin,” ujarnya
Namun informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian bermula setelah para santri selesai melakukan kegiatan pembersihan di lingkungan pesantren.
Empat orang, dua pelaku, satu korban, dan satu saksi menuju area sungai di belakang asrama. Di sana, mereka mulai bermain, mencukur rambut dan alis korban sambil bercanda.

Kemudian mereka memasukkan bensin jenis pertalite ke dalam botol kaleng minuman dan mulai bermain api dengan membakar ranting.
Tanpa sengaja, bensin tersiram ke tubuh korban, lalu ranting terbakar menyulut api ke tubuh korban.
Salah satu temannya berusaha memadamkan api dengan menggulingkan korban di tanah. Korban kemudian dibawa kembali ke pondok dan langsung dilarikan ke puskesmas oleh pihak pesantren.
Pondok Pesantren Al Islam Meeto saat ini menampung 287 santri, terdiri dari 112 santri putra dan 175 santri putri, dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 26 orang.
Pihak pesantren berharap peristiwa ini menjadi pelajaran penting agar pembinaan terhadap santri diperketat dan orang tua tetap mempercayakan pendidikan anak-anaknya di pesantren. (***)
Reporter : Andi Momang



