Bendungan Belum Normal, Produksi Padi di Ranteangin Anjlok

0
420
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kolaka Utara, Syamsu Ridjal menanggapi masalah dampak kerusakan bendungan Ranteangin pada produktivitas padi petani.

MCNEWSULTRA.ID, Lasusua – Kondisi anjloknya produktivitas panen padi di Kecamatan Ranteangin akhirnya tak bisa dihindari. Pemicunya karena satu-satunya infrastruktur penunjang yaitu bendungan mengalami kerusakan parah akibat terjangan banjir pada Januari 2021.

Upaya perbaikan sempat dilakukan Polsek setempat bersama masyarakat setempat, namun situasi belum sepenuhnya bisa normal. Solusi itu sebatas menimbun aliran sungai menuju saluran air ke persawahan sepanjang 30 meter menggunakan karung berisi batu dan pasir.

Kepala Seksi (Kasi) Produksi Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distananhorti), Kolut, Ronaldi menuturkan, pasca rusaknya bendungan Januari 2021 lalu. Produksi padi di Kecamatan Ranteangin tahun ini menurun.

“Tahun 2019 produksi panen padi sawah di wilayah itu mencapai 5,6 ton perhektar. Dengan luasan 689 hektar produksi mencapai 3.880 ton,” katanya, Rabu (22/9/2021).

Tahun 2020, produksi padi perhektar meningkat hingga 6,2 ton. Namun total produksi hanya berkisar 3.862 ton karena luas lahan yang digarap petani cuma 618 hektar.

“Tahun ini produktivitas padi sawah menurun drastis dari 6,2 ton per hektar tahun 2020, sekarang hanya 4 ton per hektar dengan luas panen sekitar 131 hektar,” ungkapnya.

Ditambahkan, sampai bulan ini petani di dua desa masih tetap menanam dengan mengandalkan air dari bendungan darurat.

“Bulan ini Kelurahan Rante Angin dan Desa Landolia sudah melakukan penanaman dengan luas 225,5 hektar. Sementara petani di Desa Rante Baru kemungkinan menanam dibulan Oktober 2021,” pungkasnya.

Kondisi bendungan rusak menjadi perhatian serius Distananhorti serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Setidaknya sudah dilakukan perbaikan secara manual agar petani tetap bisa menanam dan berproduksi tahun ini.

“Kemarin kami sudah melakukan upaya antisipasi secara manual sebanyak dua kali, menggunakan eksavator yang ada dengan membebankan kepada kelompok tani untuk membeli bahan bakar solar,” tutur Kepala Distananhorti Kolut, H Syamsu Ridjal.

Langkah tersebut dilakukan karena kondisi tanaman padi sudah mulai berisi. Melalui upaya tadi air kembali mengaliri persawahan petani meski hasilnya belum maksimal.

“Andai upaya tersebut tidak dilakukan, maka kemungkinan produksi padi di Kecamatan Rante Angin tahun ini nol karena produksi padi sangat bergantung pada suplai air yang teratur,” tukasnya.

Terkait rehab kerusakan bendungan, lanjutnya, pihak Distananhorti dan Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air PUPR Kolut tetap akan mengupayakan perbaikan dan pembenahan sementara sehingga produktivitas panen petani tidak terganggu.

“Meski bendungan tersebut rusak, sebagian petani di Kelurahan Ranteangin, Desa Landolia, dan Rante Baru masih mengolah sawahnya dengan mengandalkan air dari bendungan yang dibuat secara manual, tetapi kami tidak bisa menjamin upaya perbaikan tersebut dapat bertahan lama,” terangnya.

Sebelumnya, Bupati Kolut Nur Rahman Umar mengestimasi pembenahan bendungan yang rusak bisa menelan anggaran sebesar Rp 100 miliar (***)

Reporter : Andi Momang

 

Komen FB

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini