
MCNEWSULTRA.ID, Kendari – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sultra telah resmi menerima 48 orang dokter muda tergabung dalam Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) Angkatan I 2022. Dalam penugasan, mereka akan disebar di beberapa daerah di Sultra yaitu Kabupaten Kolaka, Buton Utara, Wakatobi dan Kota Baubau.
“Dokter Internsip ini merupakan suatu program pre-registration training sebelum mendapat Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) bagi dokter yang baru menyelesaikan masa Pendidikan profesi berbasis kompetensi,” ungkap Kadis Kesehatan
Sultra melalui Kabid Perencanaan Program dan SDK, Rosmawati Rasyid, Senin (21/2/2022).
Terkait rencana itu, kata dia, Dinkes Sultra memberikan pembekalan khusus bagi para dokter umum. Tujuannya agar para dokter internsip memahami kebijakan pembangunan sektor kesehatan di Sultra, seluk beluk kegiatan internsip dan sebagainya. Mereka bertugas di Sultra selama satu tahun.
Dijelaskan pula, selama dua hari peserta PIDI memperoleh pembekalan dari sejumlah narasumber yaitu unsur Dinkes, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sultra, Komiten Internsip Dokter Indonesia (KIDI) dan lainnya.
“Hari pertama itu diisi dengan Kebijakan PIDI nasional pada masa Pandemi Covid-19. Lalu berlanjut ke kegiatan mini workshop persiapan pelaksanaan PIDI di Wahana,” katanya.
Mini workshop itu cakupannya meliputi Pembuatan jadwal kegiatan PIDI di wahana, Pembuatan kesepakatan awal, dan e-Logbook (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Kinerja Peserta dan simulasinya)
Sedangkan pada hari kedua, lanjut Rosmawati, materi mengulas seputar Kebijakan Pembangunan Kesehatan di provinsi dan Kebijakan Teknis Penanggulangan COVID-19 di provinsi.
“Ada juga materi tentang praktik kedokteran, etika kedokteran dan alur pembuatan SIP. Termasuk juga ada matei Pencegahan Pengendalian Infeksi Covid-19,” terangnya.

Dia menambahkan, PIDI ini merupakan suatu fase bagi dokter yang baru menuntaskan masa pendidikan profesi. Selain itu program tersebut akan mengukur sejauhmana kompetensi para dokter muda menyeimbangkan pengetahuan dan skill atau keahlian di lapangan.
“Syukur-syukur mampu menjadi role model di tempat penugasannya nanti. Bisa menjalin hubungan baik dengan petugas medis di lapangan maupun masyarakat sebagai obyek penerima layanan kesehatan,” ucapnya.
Terpisah, Kadis Kesehatan Sultra dr Putu Agustin Kusumawati juga mengingatkan soal pentingnya peserta PIDI menjaga hubungan dengan nakes lain saat praktik di wahana, mampu bersinergi, koordinatif dan sebagainya.
“Kalau ada masalah diselesaikan saja secara berjenjang. Jangan langsung koordinasi ke atas. Kan di situ ada Dinas Kesehatan kabupaten atau provinsi. Yah dibereskan di rana itu dulu, kalau mentok baru ke atas,” tandas Putu Agustin. (***)
Reporter : Juhartawan



