Founder Pustaka Jendela Semesta Mubar Soroti Degradasi Literasi

0
460
Rasmin Jaya

MCNEWSULTRA.ID, Kendari – Tradisi literasi dan diskusi kritis di tengah masyarakat dinilai kian melemah di tengah derasnya arus informasi digital.

Peringatan ini disampaikan oleh Founder Komunitas Baca Pustaka Jendela Semesta Muna Barat (Mubar), Rasmin Jaya, yang menilai kondisi ini seperti menyebabkan “kekurangan gizi pada otak”.

“Ketika literasi dan bacaan tentang realitas sosial berkurang, yang terjadi adalah gagal paham dan lemahnya daya analisis,” tegas Rasmin dalam keterangannya.

Ia menyoroti tantangan era digital 5.0 yang membanjiri publik dengan hoaks, ujaran kebencian, dan isu SARA.

Namun, di sisi lain, teknologi juga dinilainya sebagai peluang untuk memperluas akses pengetahuan dan memperkuat gerakan literasi.

“Gerakan-gerakan literasi kecil yang konsisten dapat menjadi riak besar membangun karakter bangsa,” ujarnya.

Rasmin mengutip data Human Development Index (HDI) yang menempatkan Indonesia di peringkat 112 dari 175 negara dalam kategori budaya baca.

Data ini, menurutnya, adalah cermin nyata dari masih lemahnya kualitas pendidikan dan kesadaran literasi.

Kritik juga ditujukan kepada praktik pendidikan tinggi. Ia menilai masih adanya orientasi kapitalisme di lingkungan kampus, di mana sebagian tenaga pengajar lebih mengejar keuntungan, sehingga menghambat lahirnya tradisi intelektual yang sehat.

Mengutip sejarah peradaban, Rasmin menegaskan, kemajuan suatu bangsa selalu ditopang oleh tradisi membaca dan menulis.

Ia juga mengingatkan bahwa degradasi literasi di kalangan mahasiswa, sebagai calon pemimpin, akan berdampak serius pada masa depan bangsa.

“Mahasiswa dan masyarakat ilmiah harus terus berjuang. Literasi adalah bekal utama untuk membangun sikap kritis, progresif, dan transformatif menjawab tantangan zaman,” pungkasnya menegaskan. (M1)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini