Berjibaku Mengatasi Sampah Dalam Kota

0
417
Membereskan sampah dalam kota membutuhkan upaya terus menerus. Selama kurun 4 tahun Wali Kota Kendari memikirkan penanganan sampah yang kian hari meningkat kubikasinya

Tidak mudah membereskan masalah sampah dalam Kota Kendari. Populasi penduduk melonjak, volume sampah pun praktis meningkat. Butuh investasi besar bila ingin mengendalikan sampah saat ini.

Didera berbagai keterbatasan, Wali Kota Kendari Sulkarnain Kadir dalam kurun 4 tahun berjibaku memikirkan cara penanganan sampah dalam kota yang kubikasinya kian meningkat per hari.

Tidak mudah karena Kota Kendari kini berkembang dan menarik atensi masyarakat luar ingin berdomisili di Kota Kendari.

MCNEWSULTRA.ID, Kendari – Tahun 2020 statistik populasi penduduk Kota Kendari tembus 404 232 jiwa. Kalau dibanding tahun sebelumnya, ada lonjakan sekira 11 ribu jiwa dalam kurun tak sampai setahun.

Pemerintah Kota Kendari gencar sosialisasi menjaga kebersihan, utamanya pada lingkungan pemukiman masyarakat

Praktis peningkatan produksi sampah tidak bisa dicegah. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kota Kendari mencatat produksi kubikasi atau timbalan sampah mencapai 180-200 ton perhari untuk Januari 2022.

Sumbernya beragam mulai dari kompleks perumahan, swasta, pelaku usaha dan sebagainya.

Sedangkan Tahun 2021 hanya berjumlah 67 ribu ton. Hitungan nyata yang masuk ke dalam Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mencapai  67.564 ton mulai Januari – Desember.

Wali Kota Sulkarnain tidak menampik naiknya kontribusi sampah salah satunya dipicu lonjakan penduduk yang berdomisi dalam kota. Bukan hanya warga tetap kota, tetapi juga para pendatang yang bekerja atau berstudi di Kota Kendari.

Salah upaya Pemerintah Kota Kendari mengendalikan penyebaran sampah dalam kota adalah mengadakan armada truk sampah hingga menaikkan honor para petugas kebersihan

“Sejauh ini pemerintah kota terus membenahi infrastruktur penanganan maupun pengendalian sampah. Ada beberapa upaya dilakukan meminimalisasi tumpukan sampah dalam kota, meski  itu sesungguhnya tidak mudah,” ujarnya.

Dari sisi pola linier yaitu kumpul-angkut-buang, pemerintah kota mencoba untuk menambah armada pengangkut sampah dalam kota. Peningkatan volume sampah 10-20 persen mengharuskan proses pengangkutan menuju TPA berjalan 2-3 kali sehari.

“Di tahun 2020, Pemkot sudah mengadakan kurang lebih 10 unit truk sampah baru. Insahallah kita akan adakan lagi untuk mendukung penanganan sampah tahun ini,” ungkapnya.

Selain truk sampah, pemkot sudah mengadakan 10 unit amrol sampah dan 100 gerobak sampah sebagai support system. Dari hasil evaluasi pemerintah problem terbesar yang membuat masyarakat tidak sehat karena keberadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

Kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan di sekitar pemukiman masyarakat menjadi motor membangun kesadaran pada masyarakat

Pendekatan support system lainnya adalah terus membangun kesadaran masyarakat untuk terlibat dalam penanganan maupun pengendalian sampah dalam kota.

Pasalnya, ada situasi di mana masyarakat mengalami  Not In My Back Yard (NIMBY) Syndrome yaitu menganggap sampah bukan tanggung jawab mereka lagi ketika sudah berada di luar rumah.

“Kita sudah mengeluarkan imbauan agar masyarakat membuang sampah di TPS sesuai waktu yang tidak ditentukan pemerintah. Tetapi nyatanya masih ada yang kurang disiplin. Ndak apa-apa itu tantangan yang harus dijawab,” katanya.

Guna menggenjot motivasi kerja petugas kebersihan, pemkot pun menaikkan honor petugas pengangkut sampah, supir truk sampah hingga penyapu jalan. Bahkan jua dialokasi honor lembur yang bekerja pada Sabtu dan Minggu.

Pendekatan lain yang sudah lama dilakukan adalah Program bank Sampah yang melibatkan sejumlah stakeholder semisal  Jendela Rumah Sehati (JARS) Foundation dan lainnya.

Teknologi Persampahan

Perkara sampah belum sepenuhnya ketika sudah diangkut menuju ke TPA. Pemerintah kota juga mesti memikirkan penanganan sampah yang menumpuk di TPA.

Gerakan bersama menjaga kebersihan diwujudkan Wali Kota Sulkarnain Kadir dengan membangun komitmen semua stake holder

“Dulu Kota Kendari punya TPA sampah terbaik se Indonesia. Kini hal itu butuh pengelolaan tingkat lanjut seiring peningkatan penduduk 3,1 persen setiap tahun,” tandasnya.

Politisi PKS Sultra itu juga mengaku, telah bekerjasama sebagai salah satu daerah untuk pilot projects penanganan sampah khususnya plastik di Indonesia.

Sehingga pemkot akan merancang program di tahun depan menangkap sampah yang berada di aliran sungai sehingga tidak masuk ke Teluk Kendari.

Menangani sampah di TPA, Pemkot Kendari tidak terlalu terpaku lagi pada system open dumping atau dibuang begitu saja di TPA sehingga sampahnya menggunung dan rawan longsor.

Wali Kota Kendari Sulkarnain Kadir (kanan) melihat pengembangan pengelolaan sampah yang menggunakan sistem Sanitary Landfill berlokasi di TPA Talang Gulo Kelurahan Kenali Asam Bawah, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi.

“Pengolaan sampah kota kami menggunakan sistem sanitary landfill dengan tujuan meminimalisir dampak pencemaran, baik air, tanah, maupun udara sehingga lebih ramah lingkungan,” tukasnya.

Demi memaksimalkan upaya tersebut, Wali kota juga sudah berkunjung ke TPA Talang Gulo Jambi guna melihat langsung pemrosesan sampah secara teknologi. (***)

Laporan : Juhartawan

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini