PT Ceria Target Produksi Komersial Perdana Ferronickel

0
49
PT Ceria Nugraha Indotama (Ceria) adalah perusahaan pertambangan nikel yang berlokasi di Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Ceria dikenal sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Objek Vital Nasional (Obvitnas)

MCNEWSULTRA.ID, Kolaka – PT Ceria Nugraha Indotama (Ceria), perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel asal Indonesia, menargetkan produksi komersial Ferronickel (FeNi) perdana dari Smelter Merah Putih Line 1 pada akhir April 2025.

Hal ini disampaikan oleh General Manager RKEF Operation Readiness PT Ceria, Roimon Barus, dalam keterangan resmi, Selasa (8/4/2025).

Proses hot commissioning, kata dia, telah dimulai sejak 23 Februari 2025, diawali dengan pengumpanan bijih nikel pada sistem dryer dan pemanasan tungku listrik (furnace heating up).

Seluruh unit electric furnace telah aktif menggunakan pasokan listrik sejak awal April 2025.

“Kami optimistis produksi komersial FeNi pertama akan terealisasi sesuai target,” ujarnya.

Smelter Merah Putih PT Ceria mengadopsi teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) berkapasitas 72 MVA, dengan desain Rectangular Electric Furnace yang meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi gas buang.

Fasilitas ini juga dilengkapi sistem dust collector, waste management, dan pemantauan emisi digital real-time untuk memastikan kepatuhan terhadap standar lingkungan.

Seluruh pasokan listrik smelter bersumber dari PLN UID Sulselrabar yang telah bersertifikat Renewable Energy Certificate (REC), mendukung penggunaan energi hijau dan dekarbonisasi nasional.

PT Ceria juga menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) secara menyeluruh, meliputi Lingkungan berupa Reklamasi berkelanjutan, pengendalian erosi, dan manajemen air terpadu.

Lalu prinsip Sosial yang fokus pada Pemberdayaan tenaga kerja lokal, pengembangan UMKM, serta program pendidikan dan kesehatan.

Terakhir prinsip Tata Kelola yang mengutamakan kepatuhan regulasi, pengawasan internal ketat, dan transparansi informasi.

Perusahaan berencana membangun empat jalur produksi RKEF dengan kapasitas total 252.800 ton FeNi per tahun.

Selain itu, pengembangan fasilitas Nickel Matte Converter, Nickel Sulphate, dan High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sedang dirancang guna memperkuat posisi PT Ceria dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Dengan teknologi dan standar ESG yang ketat, produk FeNi PT Ceria memiliki jejak karbon rendah (low carbon footprint), menjadikannya kompetitif di pasar internasional, khususnya untuk industri kendaraan listrik dan energi bersih.

“Kami siap menghasilkan green nickel product yang mendukung ekonomi hijau dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama nikel berkelanjutan berbasis ESG,” tegas Roimon. (***)

Reporter : Joe

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini