Organisasi Wartawan Sikapi Tindakan Represif Polisi

0
321
Situasi krusial saat Jurnalis BKK, Rudinan menjadi korban kekerasan pihak kepolisian saat bertugas meliputi unjuk rasa di BLK Kendari, Kamis (18/3/2021)

MCNEWSULTRA.ID, Kendari – Kasus kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi. Kali ini nasib nahas dialami Rudinan (31) seorang jurnalis Harian Berita Kota Kendari (BKK). Dia menjadi korban tindakan represif polisi saat meliput unjuk rasa, Kamis (18/3/2021).

Kronologis, kekerasan ini terjadi saat Unjuk Rasa di Kantor Balai Latihan Kerja (BLK) Kendari, menuntut pembatalan hasil lelang pekerjaan workshop las dan otomotif.

Unjuk rasa itu, semula berlangsung damai. Pada pukul 11.40 Wita, pihak BLK akan menemui pengunjukrasa untuk dialog. Namun beberapa saat kemudian, massa adu mulut dengan polisi.

Korban Rudi, yang hendak melakukan peliputan pertemuan itu, ditahan dan diminta menujukan ID Card Jurnalis.

Meski korban sudah menunjukkan tanda pengenalnya sebagai jurnalis, kurang lebih tujuh hingga 10 orang polisi, memukul korban dari arah belakang. Belum cukup beberapa kalimat kasar juga terlontar dari mulut aparat keamanan itu.

Menanggapi insiden tersebut, sejumlah organisasi wartawan bereaksi dan memprotes aksi kasar polisi terhadap jurnalis yang sedang melakukan tugas peliputan.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sultra, Sarjono menilai, apapun alasannya tindakan kekerasan terhadap wartawan yang meliput tidak dibenarkan.

“Biar pun polisi berdalih karena situasional karena pengaruh aksi, tetapi jangan korbankan pihak lain. Pimpinan Polri harus bertanggungjawab atas tindakan anggotanya,” tegas Sarjono.

Senada Kordiv Advokasi Pengda Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sultra Mukhtaruddin menuturkan, kekerasan terhadap wartawan akibat tindakan kepolisian menunjukkan kesan aparat bekerja tidak profesional.

“Tindakan oknum Polisi yang terus berulang ini, menujukan kinerja yang tidak profesional dan bertolak belakang dengan upaya pemerintah menciptakan demokrasi yang baik,” katanya.

Untuk itu, lanjut dia, IJTI Sultra mendesak Kapolda Sultra dan Kapolres Kendari, menindak tegas oknum polisi yang melakukan kekerasan terhadap Jurnalis BKK Rudi dan segera berkoordinasi dengan organisasi profesi jurnalis lainnya, untuk melakukan advokasi terhadap korban.

“Agar tidak terulang persitiwa seperti ini, Pimpinan Polda Sultra, segera memberikan pemahanan kepada anggotanya terkait kerja-kerja jurnalis,” ujarnya.

“Kepada kawan-kawan jurnalis di Sultra, agar menjalankan tugas sesuai Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999, tentang pers dan Kode Etik Jurnalis,” imbuhnya.

Terpisah, Kapolres Kendari AKBP Didik Erfianto menyampaikan permohonan maaf atas insiden kekerasan yang menimpa jurnalis BKK.

Diakui, tindakan anggotanya hanya menjalankan pengamanan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Ketika Kepala BLK menemui pengunjuk rasa situasi jadi tidak terkontrol sehingga polisi membubarkan paksa aksi.

“Saya minta maaf mewakili institusi Polri. Anggota yang melakukan kekerasan sudah diproses Propam. Kita ini mitra, jadi mesti saling mengingatkan di lapangan,” jelasnya. (***)

Reporter : Wawan Alfiansyah

 

Komen FB

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini