Kota Kendari terus berinovasi dalam percepatan penanganan stunting. Meski tidak masuk wilayah lokus stunting secara nasional, namun tuntutan untuk mencapai angka prevalensi sebesar 14 persen menjadi tantangan tersendiri bisa terwujud di Tahun 2024.
Kasus stunting memang tidak akan pernah berakhir, setara pembangunan juga tak mengenal garis finish. Namun bagi Kota Kendari, upaya pengendalian stunting bukan sekadar capaian target capaian normatif, tetapi ini bicara nasib generasi masa depan bangsa.
Sejauh ini jajaran Pemerintah Kota Kendari, khususnya gugus tugas tim audit stunting berkolaborasi guna terus memaksimalkan empat pendekatan intervensi secara terintegrasi baik dari sisi diseminasi maupun pelaksanaan prioritas kegiatan.
MCNEWSULTRA.ID, Kota Kendari – Berbagai skala kegiatan yang direalisasikan pemerintah kota tetap masuk dalam cakupan visi mewujudkan Kota Kendari sebagai Kota Layak Huni yang Berbasis Ekologi, Informasi dan Teknologi.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kendari, Cornelius Padang menegaskan, prioritas kebijakan pembangunan kota tetap merujuk pada target visi misi yang sudah dicanangkan dengan basis pembangunan kota layak huni, baik di sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan sebagainya.
“Kalau sudah terwujud kota layak huni, maka semua komponen kegiatan maupun elemen masyarakat akan merasakan dampaknya secara positif. Pembangunan itu sifatnya mengintegrasikan berbagai program maupun kegiatan dengan satu capaian visi dan misi,” terangnya.

Dasar itu, kata dia, pemerintah kota sangat mendukung seluruh program maupun kegiatan pemerintah daerah, provinsi maupun pusat. Beberapa di antaranya seperti Kota Layak Anak (KLA), percepatan penanganan stunting, kota sehat dan lainnya.
Pemerintah Kota Kendari sudah melakukan upaya penanganan stunting sejak beberapa tahun lalu. Semua upaya konvergensi dalam empat pendekatan intervensi baik intervensi spesifik, sensitif, pendukung maupun terintegrasi sesuai amanat pemerintah pusat telah dilaksanakan dalam kurun beberapa tahun.
Berbagai informasi dihimpun mengungkap, pendekatan spesifik yang dimaksud adalah pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan bayi kurus, pemberian tablet darah bagi remaja, Wanita Usia Subur (WUS), promosi dan konseling menyusui, promosi dan konseling Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) dan sebagainya.
Sedangkan pendekatan sensitif juga dilakukan jajaran pemerintah kota dalam beberapa tahun seperti peningkatan akses minum yang aman bagi masyarakat, mengoptimalkan pelayanan gizi dan kesehatan, intensif melakukan edukasi konseling dan perubahan prilaku di tengah masyarakat.
Sedangkan intervensi pendukung berupa jaminan agar setiap anak yang lahir mendapat akta kelahiran agar bisa terdaftar dalam sistem bantuan sosial, utamanya mendapat kemudahan dalam pelayanan kesehatan di puskesmas maupun posyandu.
Posyandu itu merupakan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang diselenggarakan secara berkala setiap satu bulan sekali oleh masyarakat dengan dukungan petugas kesehatan.

Adapun intervensi terintegrasi yang dilakukan Pemerintah Kota Kendari dalam beberapa tahun terakhir menangani stunting adalah menguatkan sinergitas dan kolaborasi secara multipihak. Jadi bukan sepenuhnya dikerjakan pemerintah kota.
Pj Wali Kota Kendari Asmawa Tosepu menerapkan tiga strategi penanganan stunting. Yaitu, Pertama, bagi remaja putri perlu diberikan intervensi melalui pemberian tablet penambah darah bagi yang belum menikah.
Kedua, bagi ibu hamil diberikan makanan tambahan untuk meningkatkan gizi protein kepada ibu hamil dan ketiga untuk anak usia 6-24 tahun diberikan makanan tambahan yang memiliki kadar nabati yang cukup tinggi seperti telur, ikan, daging dan susu.
Terpisah, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Kendari, Hasmirah mengatakan, langkah yang lakukan Dinkes saat ini yaitu melakukan intervensi spesifik tersendiri terhadap penyebab langsung gejala stunting.
Namun, tupoksi Intervensi spesifik yang dilakukan pihaknya dalam penanganan stunting hanya 30 persen dari intervensi sensitif, keseluruhan sebesar 70 persen yang akan ditangani oleh beberapa OPD tim percepatan stunting di Kota Kendari
“Jadi kita intervensi itu banyak yang dilakukan, karena spesifik ada pemberian tablet tambah darah untuk ibu hamil 90 biji, ada pemberian untuk bumil yang KEK,(Kurang Energi Kronis),”terangnya. (adv)
Editor : Johartawan




